Telah afektif. Laboratorium merupakan wahana belajar bagi siswa dalam

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui dan memetakan kemampuan guru dalam mengadministrasi dan menyimpan alat/bahan laboratorium serta melaksanakan pembelajaran berbasis praktikum. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan pada 12 SMP/MTs di Bandar Lampung. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui 75% sekolah yang diobservasi memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola laboratorium; 91,67% sekolah sangat tepat dalam penyimpanan alat/bahan laboratorium; dan sebanyak 50% SMP dan MTs yang ada di Bandar Lampung yang melaksanakan praktikum IPA lebih dari 5 kali, 45% sekolah 2-3 kali, serta 5% sekolah 1 kali dalam satu semester. Secara umum, apabila ditinjau kelengkapan sarana dan prasarana laboratorium IPA di sekolah yang dijadikan responden, maka dapat dikatakan kelengkapannya masih kurang memadai. Kata Kunci: Pemetaan Kemampuan Guru, Praktikum IPA, Pengelolaan Laboratorium, Sarana dan PrasaranaPENDAHULUANSaat ini, upaya pengembangan berbagai pembelajaran IPA guna memberikan perbaikan pembelajaran banyak dilakukan oleh para ahli. Bentuk pengembangan pembelajaran berupa pengembangan model, metode, hingga media pembelajaran. Seluruhnya dilakukan guna meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran IPA. Tidak hanya kemampuan pada ranah  kognitif saja, namun pengembangan pembelajaran pada aspek psikomotor dan afektif juga harus muncul pada setiap kegiatan pembelajaran.Untuk mewujudkan hal tersebut di dalam pembelajaran IPA diperlukan adanya inovasi dalam kegiatan pembelajaran. Pemanfaatan Laboratorium merupakan salah satu alternatif dalam peningkatan pemahaman siswa pada ranah pengetahuan, psikomotor dan afektif. Laboratorium merupakan wahana belajar bagi siswa dalam menumbuhkan pemahaman belajar IPA. Kurikulum 2013 mengisyaratkan bahwa kegiatan pembelajaran IPA merupakan pembelajaran menemukan sebuah konsep. Secara teoritis keberadaan laboratorium mampu menunjang kegiatan-kegiatan yang berpusat pada pengembangan keterampilan tertentu, antara lain keterampilan proses, keterampilan motorik, dan pembentukan sikap ilmiah, khususnya pengembangan minat untuk melakukan penyelidikan, penelitian, dan minat mempelajari alam secara lebih mendalam (Hudha 2011).IPA adalah salah satu ilmu yang membahas gejala dan perilaku alam, sepanjang dapat diamati oleh manusia. Dibutuhkan sebuah sarana dalam merealisasikan pembelajaran IPA dalam kegiatan nyata. Media belajar merupakan alasan dalam merealisasikan penemuan sebuah konsep di dalam IPA. Media itu dapat diwujudkan melalui kegiatan laboratorium. Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana menyatakan bahwa sebuah SMP/MTs sekurang-kurangnya memiliki prasarana sekolah yang memadai guna sebagai penunjang dalam keterampilan proses dalam pembelajaran di sekolah, terutama yang berhubungan dengan kegiatan praktikum adalah laboratorium IPA. Laboratorium merupakan suatu bagian penting khusunya untuk pendidikan IPA, bahkan sudah menjadi bagian dari kurikulum sekolah (Hart Muhall, P. dkk, 2000). Mengingat betapa pentingnya proses praktikum di laboratorium dalam kurikulum pembelajaran, buku, dan sebaginya sehingga beberapa penelitian dan ulasan terkait  praktikum di laboratorium juga dilakukan oleh para peneliti (Hofstein & Lunetta, 1982). Pendidikan yang berkualitas dapat dicapai ketika laboratorium IPA dan pengajaran melebur menjadi satu tujuan  pembelajaran yang relevan (Hamidu, Ibrahim, & Muhammed, 2014).Adanya laboratorium diharapkan proses pengajaran IPA dapat dilaksanakan semaksimal mungkin, meskipun bukan berarti IPA tidakdapat diajarkan tanpa adanya laboratorium. Oleh karena itu, laboratorium merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar IPA. Menurut Hofstein & Lunetta (1982), ada 3 alasan yang menguatkan peran laboratorium untuk meningkatkan pembelajaran siswa, yaitu (1) penerapan teori yang mendasari percobaan untuk memecahkan masalah yang sama yang melibatkan situasi fisik yang berbeda; (2) memodifikasi percobaan untuk menemukan jumlah yang berbeda, atau untuk menemukan jumlah yang sama dengan menggunakan metode yang berbeda.; dan (3) memprediksi efek dari kesalahan dalam prosedur eksperimental atau pengukuran.Menurut penelitian yang dilakukan oleh Gunawan dkk (2017), pemanfaatan laboratorium (baik real maupun virtual) dapat meningkatan pemahaman siswa mengenai suatu konsep. Terbukti siswa yang berada di kelas ekesperimen (berbasis laboratorium) memiliki kemampuan merencanakan dan mengimplementasikan lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hal lain juga diungkapkan Hart Muhall, P. dkk (2000), bahwa siswa mampu belajar berdasarkan eksperimen di laboratorium, selain itu juga dapat meningkatkan hubungan yang kuat antara tujuan guru dan tugas yang diberikan kepada siswa. Penjelasan mengenai tujuan pembelajaran terterntu yang ingin dicapai harus menjadi komponen utama bagi guru dalam mendesain, memilih, dan menentukan aktivitas di kelas. Tujuan juga dapat berfungsi sebagai dasar yang paling penting dalam melakukan penilaian siswa dan menyusun strategi pengajaran (Hofstein & Lunetta, 2002).Pelakasanaan pembelajaran di laboratorium dapat meningkatkan lingkungan belajar yang mendorong siswa menimbulkan pertanyaan yang menimbulkan pemikiran kritis. Siswa akan terdorong untuk bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang mengarah interaksi sosial dan peer teaching (Almroth, 2015). Selain itu siswa juga akan memperoleh keterampilan teknis dan sering menawarkan akses teknologi modern. Contohnya, guru atau siswa yang terlalu banyak fokus pada metodologi atau teori, sehingga waktu untuk berinteraksi atau praktikum di laboratorium sedikit dan tidak sesuai dengan pembelajaran (Gunstone, 1991). Atas dasar itu, maka perlu ditingkatkannya manajemen laboratorium sekolah khususnya IPA untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa di sekolah.

x

Hi!
I'm Dianna!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out